Rabu, 17 Januari 2018

Perekonomian Indonesia Terhadap Investasi Nasional

Untuk mengukur keberhasilan perekonomian suatu negara salah satunya dapat dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi (economic growth) dapat diukur dari kenaikan besarnya pendapatan nasional (produksi nasional) pada periode tertentu. Oleh karena itu, nilai dari pendapatan nasional (National income) ini merupakan gambaran dari aktivitas ekonomi secara nasional pada periode tertentu. Tingginya tingkat pendapatan nasional dapat mencerminkan besarnya barang dan jasa yang dapat diproduksi. Besarnya kapasitas produksi tersebut dapat menunjukkan tingginya tingkat kemakmuran masyarakat dalam suatu negara.
Baik negara yang sedang berkembangmaupun negara-negara maju, semua menginginkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterimah oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya satu tahun.
Dalam ekonomi makro, investasi merupakan salah satu komponene dari pendapatan nasional, produk domestic bruto (PDP) atau Gross Demestic Bruto GDP. GDP yang dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama konsumsi, investasi, pembelian pemerintah, ekspor neto. Y= C+I+G+(X-M) dari persamaan dapat diketahui bahwa investasi berkolerasi dengan GDP. Secara umum dapat dikatakan jika investasi naik maka GDP naik dan sebaliknya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sama halnya dengan keadaan investasi, juga mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 sebesar 3,64% dan mengalami kenaikan pada tahun 4,50%. Hal ini juga berbarengan dengan keadaan investasi sektor transportasi.
Selama periode sembilan bulan pertama 1998, merupakan periode paling hiruk-pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997, berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.
Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan siyuasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.
Seperti krisis yang semula hanyaberawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik. Akhirnya, dia juga berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah, dan akhirnya dia tinggalkan. Mungkin soeharto, selama sisa hidupnya akan mengutuk devaluasi baht, yang menjadi pemicu semua itu.
Menurut menteri kordinator bidang perekonomian Hatta Rajasa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 lebih baik dibandingkan tahun 2012 dan Hatta memandang data yang menunjukkan akan adanya arus investasi yang lebih jauh kuat pada tahun 2013 namun walaupun seperti itu harus berhati-hati juga.
Dan menurut Mentri Keuangan Agus D.W.Martowardojo optimistis, ekonomi Indonesia dapat tumbuh hingga 6,5 persen pada tahun 2012. Angka tersebut meneruskan tren peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah mampu tumbuh menyentuh angka 6,1 persen pada tahun 2010 dan 6,5 persen pada tahun 2011. Lebih lanjut menyampaikan, selain mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang ttinggi, pemerintah juga telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi.
a.      Investasi
Investasi yang lazim disebut juga dengan istilah penannaman modal atau apabila digunakan istilah dalam perhitungan pendapatan nasional dinamakan pembentukan modal dalam negeri (demestik) bruto, terjadi dari tabungan dari sektor perusahan yang digunakan oleh para pengusaha untuk membeli barang-barang modal.
Ada beberapa pengertian lain investasi adalah pengeluaran untuk barang-barang yang tidak dikonsumsikan sekarang, melainkan menambahkan jumlah barang-barang atau alat-alat produksi. Menurut Boediono (1998), investasi adalah pengeluaran oleh sektor-sektor produsen (swasta) untuk pembelian barang-barang atau jasa dengan tujuan merubah stok gudang atau perluasan pabrik. Menurut Sukirno (1995), investasi dapat didefenisikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahan untuk membeli barang-barnag modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi dengan tujuan untuk mengganti dan menambah barang-barang modal yang akan digunakan untuk memproduksi barang-banrang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian dimasa depan, sedangkan fungsi dari investasi yaitu peningkatan produksi, penyempurnaan struktur produksi, pemerataan, pendapatan, pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam serta mendorong ekspor.
b.      Faktor-faktor utama
Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah:
1.      Tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh.
2.      Suku bunga.
3.      Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa yang akan datang.
4.      Kemajuan teknologi.
5.      Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya,
Peranan investasi terhadap kapasitas produksi nasional memang sangat besar, karena investasi merupakan penggerak perekonmian, baik untuk penambahan faktor produksi maupun berupa peningkatan kualitas faktor produksi, investasi ini nantinya akan memperbesara pengeluaran masyarakat melalui peningkatan pendapatan masyarakat dengan bekerja multiplier effect. Faktor produksi akan mengalami penyusutan, sehingga akan mengurangi produktivitas dari faktor-faktor produksi tersebut. Supaya tidak terjadi penurunan produktivitas (kpasitas) nasional harus diimbangi dengan investasi baru yang lebih besar dari penyusutan faktor-faktor produksi. Akhirnya perekonomian masyarakat (nasional) akan berkembang secara dinamis dengan naiknya investasi yang lebih besar dari penyusutan faktor produksi tersebut.
Bila penambahan investasi lebih kecil dari penyusutan faktor-faktor produksi, maka terjadi stagnasi perekonomian untuk dapat berkembang.
c.       Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional merupakan salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai kondisi perekonomian suatu negara adalah pendapatan nasional. Tujuan dari perhitungan pendapatan nasional ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat ekonomi yang telah dicapai dan nilai output yang diproduksi, komposisi pembelanjaan agregat, sumbangan dari berbagai sektor perekonomian, serta tingkat kemakmuran yang dicapai (Sukirno, 2008). Selain itu, data pendapatan nasional yang telah dicapai dapat digunakan untuk membuat prediksi tentang perekonomian negara tersebut pada masa yang akan dantang. Prediksi ini dapat digunakan oleh pelaku bisnis untuk merumuskan perencanaan ekonomi untuk mewujudkan pembangunan negara di masa mendatang (Sukirno,2008).
Faktor yang mempengaruhi pendapatan Nasional : permintaan dan penawaran agregat, konsumsi, tabungan dan investasi.
Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
1.      Cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa,bunga, dan laba) yang diterimah rumah tangga konsumsi dalam suatu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
2.      Menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi.
3.      Cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam satu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan penedekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu Rumah tangga, pemerintah, investasi, dan selisish antara nilai ekspor dikurangi impor (X-M)
Berikut data pendapatan Nasional Negara Republik Indonesia dari tahun 2005-2009:
NO
LAPANGAN USAHA/INDUSTRIAL ORIGIN
2005-2009
1
Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan/Agriculture, Livestock, foresty and fishery (%) (Triliun Rp).
13,39% (234,44)
2
Pertambangan dan penggalian/Mining and Quarrying (%) (Triliun Rp).
10,44% (111,18)
3
Industri pengeohan/Manufacturing industry (%) (Triliun Rp).
28,06% (491,28)
4
Listrik, gas, dan air bersih/electricity, gas and water supply (%) (Triliun Rp).
0,92% (16,11)
5
Konstruksi/construction (%)(Triliun Rp).
6,35% (111,18)
6
Perdangan, hotel dan restoran/tade, hptel and restaurant (%) (Triliun Rp).
15,75% (275,75)
7
Pengangkutan dan komunikasi/transport and communication (%)(Triliun Rp).
6,63% (116,08)
8
Keuangan, real estat dan jasa perusahan/finance, real estate and business services (%) (Triliun Rp).
8,36% (146,37)
9
Jasa-jasa/services (%) (Triliun Rp).
10,1%
10
Produk domestik bruto/gross domestic product (%) (Triliun Rp)
100
11
PDB tanpa migas/GDP without oil and Gas (%) (Triliun Rp)
88,93% (1557,01)
 Sumber : Biro pusat statistik
Dalam melakukan pembangunan ekonomi dibutuhkan biaya yang cukup besar yang salah satunya doperoleh dari investasi swasta baik berupa penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
Penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebagai sumber domestik merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi nasional (Jhingan, 1994). Disatu pihak mencerminkan permintaan efektif dan pihak lain menciptakan efisiensi produktif bagi produksi dimasa depan. Proses penanaman modal ini menghasilkan kenaikan output nasional dalam berbagai cara. Penanaman modal diperlukan untuk memenuhi permintaan penduduk yang meningkat produksi tetapi kesempatan kerja. Pembentukan atau penanaman modal dalam negeri ini pula yang akan membawa kearah kemajuan teknologi, kemajuan teknologi pada gilirannya membawa kearah spesialisasi dan penghematan produksi skalaluas, penanaman modal membantu uasaha penyediaan mesin, alat dan perelengkapan bagi tenaga buruh yang semakin meningkat. Penanaman modal asing (PMA) sebagai salah satu jenis penanaman modal memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan. Modal asing swasta dapat mengambil bentuk investasi langsung dan investasi tidak langsung.
Penanaman Modal Asing
Pengertian penanaman modal asing adalah alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia. Jadi penanaman asing diperlukan untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
Dalam setiap proses pengambilan keputusan investasi, unsur-unsur tersebut akan muncul kelima unsur tersebut adalah:
1.      Kondisi Investor
2.      Motif Investor
3.      Media Investor
4.      Teknik dan modal analisis termasuk jenis informasi dan cara pengolahannya
5.      Strategi Investasi

d.      Masalah Investasi
Masalah investasi adalah suatu masalah yang langsung berhubungan dengan besarnya pengharapan pendapatan nasional yang akan diperoleh dari barang dan modal dimasa depan. Pengharapan akan pendapatan merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan besarnya investasi. Lebih besar dari tingkat bunga dan investasi dalam suatu barang modal adalah menguntungkan jika biaya sewa ditambah bunga lebih kecil dari pada hasil pendapatan yang diharapkan dari investasi menurut teori ini, yaitu:
1.      Tingkat biaya barang Modal,
2.      Tingkat bunga, dan
3.      Tingginya pendapatan yang akan diterima.
Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup penduduk yang jumlahnya terus meningkat.
e.       Pengaruh Investasi terhadap Pendapatan Nasional
Terdapat kaitan yang erat antara pertumbuhan ekonomi dalam pendapatan nasional dan investasi. Hubungan Keduanya menjadi suatu sorotan para ekonomi, baik dari kalangan klasik maupun Neo Klasik. Teeori pendapatan nasional yang menggunakan pendekatan pengeluaran agregatif, dimana besarnya pendapatan nasional suatu negara diukur dari komponen-komponen expenditure para pelaku ekonominya lewat anggaran-anggarannya yaitu: sektor rumah tangga (C), perilaku usaha dan dunia usaha tercermin lewat komponen investasi (I) yang ditanam, pemerintah melalui anggaran belanjanya (G) dan sektor perdagangan internasional yang tercermin lewat nilai ekspor/impor netto-nya. Teori diatas selanjutnya menurunkan pertimbangan parsial pada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melakukan konsumsi yang dilakukan oleh sektor rumah tangga, investasi oleh para pengusaha ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu diantara faktor-faktor penting yang dipertimbangkan adalah besarnya nilai pendapatan nasional yang dicapai (Sukirno, 2006).
Dalam kebanyakan analisa mengenai penentuan pendapatan nasional pada umumnya variabel investasi yang dilakukan oleh pengusaha berbentuk investasi otonom (besaran/nilai tertentu investasi yang selalu sama pada berbagai tingkat pendapatan nasional). Tetapi adakalanya tingkat pendapatan nasional sangat besar pengaruhnya pada tingkat investasi yang secara teoritis, dapat dikatakan bahwa pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi itu akan memperbesar permintaan atas barang-barang dan jasa. Maka keuntungan yang dicapai oleh sektor usaha dapat mencapai targetnya, dengan demikian pada akhirnya akan mendorong dilakukan investasi-insetasi baru pada sektor usaha. Dengan demikian, apabila nilai pendapatan nasional semakin bertambah tinggi, maka investasi akan bertambah tinggi pula. Dan sebaliknya semakin rendah nilai pendapatan nasional, maka niali permintaan investasinya akan semakin rendah pula. Pengembangan yang dilakukan para ekonomi Neoklasik pada teori Keynes ini terlihat pada model akselerator investasi adalah ssebanding dengan perubahan output dalam perekonomian.
f.       Solusinya
1.      Pemerintah harus lebih mengawasi perekonomian, melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat agar kebijakan tersebut dapat lebih menghidupkan perekonomian di Indonesia dan dapat menarik investor-investor dalam menanamkan investasinya lebih banyak lagi di Indonesia.
2.      Lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui produk domestik brutonya, sehingga dapat menarik investor dalam menanamkan investasinya.
3.      Menjaga tingkat inflasi dalam negeri agar tetap stabil, sehingga membuat harga-harga dalam negeri juga tetap stabil sehingga mendorong meningkatkan investasi dalam negeri.

#R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar