Untuk
mengukur keberhasilan perekonomian suatu negara salah satunya dapat dilihat
dari angka pertumbuhan ekonomi (economic growth) dapat diukur dari kenaikan
besarnya pendapatan nasional (produksi nasional) pada periode tertentu. Oleh
karena itu, nilai dari pendapatan nasional (National income) ini merupakan
gambaran dari aktivitas ekonomi secara nasional pada periode tertentu.
Tingginya tingkat pendapatan nasional dapat mencerminkan besarnya barang dan
jasa yang dapat diproduksi. Besarnya kapasitas produksi tersebut dapat
menunjukkan tingginya tingkat kemakmuran masyarakat dalam suatu negara.
Baik
negara yang sedang berkembangmaupun negara-negara maju, semua menginginkan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pendapatan nasional adalah jumlah
pendapatan yang diterimah oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu
negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya satu
tahun.
Dalam
ekonomi makro, investasi merupakan salah satu komponene dari pendapatan
nasional, produk domestic bruto (PDP) atau Gross Demestic Bruto GDP. GDP yang
dihitung berdasarkan pengeluaran terdiri dari empat komponen utama konsumsi,
investasi, pembelian pemerintah, ekspor neto. Y= C+I+G+(X-M) dari persamaan
dapat diketahui bahwa investasi berkolerasi dengan GDP. Secara umum dapat
dikatakan jika investasi naik maka GDP naik dan sebaliknya.
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia sama halnya dengan keadaan investasi, juga mengalami
fluktuasi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 sebesar
3,64% dan mengalami kenaikan pada tahun 4,50%. Hal ini juga berbarengan dengan
keadaan investasi sektor transportasi.
Selama
periode sembilan bulan pertama 1998, merupakan periode paling hiruk-pikuk dalam
perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,
berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan
secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.
Dana
Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak oktober 1997, namun
terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan
siyuasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis
ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.
Seperti
krisis yang semula hanyaberawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli
1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi,
berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik. Akhirnya, dia juga
berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi
kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah, dan
akhirnya dia tinggalkan. Mungkin soeharto, selama sisa hidupnya akan mengutuk
devaluasi baht, yang menjadi pemicu semua itu.
Menurut
menteri kordinator bidang perekonomian Hatta Rajasa pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun 2013 lebih baik dibandingkan tahun 2012 dan Hatta memandang
data yang menunjukkan akan adanya arus investasi yang lebih jauh kuat pada
tahun 2013 namun walaupun seperti itu harus berhati-hati juga.
Dan
menurut Mentri Keuangan Agus D.W.Martowardojo optimistis, ekonomi Indonesia
dapat tumbuh hingga 6,5 persen pada tahun 2012. Angka tersebut meneruskan tren
peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah mampu tumbuh menyentuh
angka 6,1 persen pada tahun 2010 dan 6,5 persen pada tahun 2011. Lebih lanjut
menyampaikan, selain mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang ttinggi, pemerintah
juga telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi.
a.
Investasi
Investasi
yang lazim disebut juga dengan istilah penannaman modal atau apabila digunakan
istilah dalam perhitungan pendapatan nasional dinamakan pembentukan modal dalam
negeri (demestik) bruto, terjadi dari tabungan dari sektor perusahan yang
digunakan oleh para pengusaha untuk membeli barang-barang modal.
Ada
beberapa pengertian lain investasi adalah pengeluaran untuk barang-barang yang
tidak dikonsumsikan sekarang, melainkan menambahkan jumlah barang-barang atau
alat-alat produksi. Menurut Boediono (1998), investasi adalah pengeluaran oleh
sektor-sektor produsen (swasta) untuk pembelian barang-barang atau jasa dengan
tujuan merubah stok gudang atau perluasan pabrik. Menurut Sukirno (1995),
investasi dapat didefenisikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman
modal atau perusahan untuk membeli barang-barnag modal dan
perlengkapan-perlengkapan produksi dengan tujuan untuk mengganti dan menambah
barang-barang modal yang akan digunakan untuk memproduksi barang-banrang dan
jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian dimasa depan, sedangkan fungsi dari
investasi yaitu peningkatan produksi, penyempurnaan struktur produksi,
pemerataan, pendapatan, pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam
serta mendorong ekspor.
b.
Faktor-faktor
utama
Faktor-faktor
utama yang menentukan tingkat investasi adalah:
1. Tingkat
keuntungan yang diramalkan akan diperoleh.
2. Suku
bunga.
3. Ramalan
mengenai keadaan ekonomi di masa yang akan datang.
4. Kemajuan
teknologi.
5. Tingkat
pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya,
Peranan
investasi terhadap kapasitas produksi nasional memang sangat besar, karena
investasi merupakan penggerak perekonmian, baik untuk penambahan faktor
produksi maupun berupa peningkatan kualitas faktor produksi, investasi ini
nantinya akan memperbesara pengeluaran masyarakat melalui peningkatan
pendapatan masyarakat dengan bekerja multiplier
effect. Faktor produksi akan mengalami penyusutan, sehingga akan mengurangi
produktivitas dari faktor-faktor produksi tersebut. Supaya tidak terjadi
penurunan produktivitas (kpasitas) nasional harus diimbangi dengan investasi
baru yang lebih besar dari penyusutan faktor-faktor produksi. Akhirnya
perekonomian masyarakat (nasional) akan berkembang secara dinamis dengan
naiknya investasi yang lebih besar dari penyusutan faktor produksi tersebut.
Bila
penambahan investasi lebih kecil dari penyusutan faktor-faktor produksi, maka
terjadi stagnasi perekonomian untuk dapat berkembang.
c.
Pendapatan
Nasional
Pendapatan
Nasional merupakan salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai
kondisi perekonomian suatu negara adalah pendapatan nasional. Tujuan dari
perhitungan pendapatan nasional ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang
tingkat ekonomi yang telah dicapai dan nilai output yang diproduksi, komposisi
pembelanjaan agregat, sumbangan dari berbagai sektor perekonomian, serta
tingkat kemakmuran yang dicapai (Sukirno, 2008). Selain itu, data pendapatan
nasional yang telah dicapai dapat digunakan untuk membuat prediksi tentang
perekonomian negara tersebut pada masa yang akan dantang. Prediksi ini dapat
digunakan oleh pelaku bisnis untuk merumuskan perencanaan ekonomi untuk
mewujudkan pembangunan negara di masa mendatang (Sukirno,2008).
Faktor
yang mempengaruhi pendapatan Nasional : permintaan dan penawaran agregat,
konsumsi, tabungan dan investasi.
Pendapatan
negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
1. Cara
menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa,bunga, dan laba) yang diterimah
rumah tangga konsumsi dalam suatu periode tertentu sebagai imbalan atas
faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
2. Menjumlahkan
nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri,
agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk
yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan
bahan mentah atau barang setengah jadi.
3. Cara
menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang
diproduksi dalam satu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan
penedekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh
empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu Rumah tangga, pemerintah,
investasi, dan selisish antara nilai ekspor dikurangi impor (X-M)
Berikut
data pendapatan Nasional Negara Republik Indonesia dari tahun 2005-2009:
|
NO
|
LAPANGAN
USAHA/INDUSTRIAL ORIGIN
|
2005-2009
|
|
1
|
Pertanian, peternakan, kehutanan
dan perikanan/Agriculture, Livestock, foresty and fishery (%) (Triliun Rp).
|
13,39% (234,44)
|
|
2
|
Pertambangan dan
penggalian/Mining and Quarrying (%) (Triliun Rp).
|
10,44% (111,18)
|
|
3
|
Industri pengeohan/Manufacturing
industry (%) (Triliun Rp).
|
28,06% (491,28)
|
|
4
|
Listrik, gas, dan air
bersih/electricity, gas and water supply (%) (Triliun Rp).
|
0,92% (16,11)
|
|
5
|
Konstruksi/construction
(%)(Triliun Rp).
|
6,35% (111,18)
|
|
6
|
Perdangan, hotel dan
restoran/tade, hptel and restaurant (%) (Triliun Rp).
|
15,75% (275,75)
|
|
7
|
Pengangkutan dan
komunikasi/transport and communication (%)(Triliun Rp).
|
6,63% (116,08)
|
|
8
|
Keuangan, real estat dan jasa
perusahan/finance, real estate and business services (%) (Triliun Rp).
|
8,36% (146,37)
|
|
9
|
Jasa-jasa/services (%) (Triliun
Rp).
|
10,1%
|
|
10
|
Produk domestik bruto/gross
domestic product (%) (Triliun Rp)
|
100
|
|
11
|
PDB tanpa migas/GDP without oil
and Gas (%) (Triliun Rp)
|
88,93% (1557,01)
|
Sumber : Biro pusat statistik
Dalam
melakukan pembangunan ekonomi dibutuhkan biaya yang cukup besar yang salah
satunya doperoleh dari investasi swasta baik berupa penanaman modal dalam
negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
Penanaman
modal dalam negeri (PMDN) sebagai sumber domestik merupakan kunci utama
pertumbuhan ekonomi nasional (Jhingan, 1994). Disatu pihak mencerminkan
permintaan efektif dan pihak lain menciptakan efisiensi produktif bagi produksi
dimasa depan. Proses penanaman modal ini menghasilkan kenaikan output nasional
dalam berbagai cara. Penanaman modal diperlukan untuk memenuhi permintaan
penduduk yang meningkat produksi tetapi kesempatan kerja. Pembentukan atau
penanaman modal dalam negeri ini pula yang akan membawa kearah kemajuan
teknologi, kemajuan teknologi pada gilirannya membawa kearah spesialisasi dan
penghematan produksi skalaluas, penanaman modal membantu uasaha penyediaan
mesin, alat dan perelengkapan bagi tenaga buruh yang semakin meningkat.
Penanaman modal asing (PMA) sebagai salah satu jenis penanaman modal memiliki
peran yang sangat besar dalam pembangunan. Modal asing swasta dapat mengambil
bentuk investasi langsung dan investasi tidak langsung.
Penanaman
Modal Asing
Pengertian
penanaman modal asing adalah alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan
bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan pemerintah
digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia. Jadi penanaman asing diperlukan
untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
Dalam
setiap proses pengambilan keputusan investasi, unsur-unsur tersebut akan muncul
kelima unsur tersebut adalah:
1. Kondisi
Investor
2. Motif
Investor
3. Media
Investor
4. Teknik
dan modal analisis termasuk jenis informasi dan cara pengolahannya
5. Strategi
Investasi
d.
Masalah
Investasi
Masalah
investasi adalah suatu masalah yang langsung berhubungan dengan besarnya
pengharapan pendapatan nasional yang akan diperoleh dari barang dan modal
dimasa depan. Pengharapan akan pendapatan merupakan faktor yang sangat penting
untuk menentukan besarnya investasi. Lebih besar dari tingkat bunga dan
investasi dalam suatu barang modal adalah menguntungkan jika biaya sewa
ditambah bunga lebih kecil dari pada hasil pendapatan yang diharapkan dari
investasi menurut teori ini, yaitu:
1. Tingkat
biaya barang Modal,
2. Tingkat
bunga, dan
3. Tingginya
pendapatan yang akan diterima.
Pertumbuhan
ekonomi dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup
penduduk yang jumlahnya terus meningkat.
e.
Pengaruh
Investasi terhadap Pendapatan Nasional
Terdapat
kaitan yang erat antara pertumbuhan ekonomi dalam pendapatan nasional dan
investasi. Hubungan Keduanya menjadi suatu sorotan para ekonomi, baik dari
kalangan klasik maupun Neo Klasik. Teeori pendapatan nasional yang menggunakan
pendekatan pengeluaran agregatif, dimana besarnya pendapatan nasional suatu
negara diukur dari komponen-komponen expenditure para pelaku ekonominya lewat
anggaran-anggarannya yaitu: sektor rumah tangga (C), perilaku usaha dan dunia
usaha tercermin lewat komponen investasi (I) yang ditanam, pemerintah melalui
anggaran belanjanya (G) dan sektor perdagangan internasional yang tercermin
lewat nilai ekspor/impor netto-nya. Teori diatas selanjutnya menurunkan
pertimbangan parsial pada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam
melakukan konsumsi yang dilakukan oleh sektor rumah tangga, investasi oleh para
pengusaha ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu diantara faktor-faktor
penting yang dipertimbangkan adalah besarnya nilai pendapatan nasional yang
dicapai (Sukirno, 2006).
Dalam
kebanyakan analisa mengenai penentuan pendapatan nasional pada umumnya variabel
investasi yang dilakukan oleh pengusaha berbentuk investasi otonom
(besaran/nilai tertentu investasi yang selalu sama pada berbagai tingkat
pendapatan nasional). Tetapi adakalanya tingkat pendapatan nasional sangat
besar pengaruhnya pada tingkat investasi yang secara teoritis, dapat dikatakan
bahwa pendapatan nasional yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat
dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi itu akan memperbesar
permintaan atas barang-barang dan jasa. Maka keuntungan yang dicapai oleh
sektor usaha dapat mencapai targetnya, dengan demikian pada akhirnya akan
mendorong dilakukan investasi-insetasi baru pada sektor usaha. Dengan demikian,
apabila nilai pendapatan nasional semakin bertambah tinggi, maka investasi akan
bertambah tinggi pula. Dan sebaliknya semakin rendah nilai pendapatan nasional,
maka niali permintaan investasinya akan semakin rendah pula. Pengembangan yang
dilakukan para ekonomi Neoklasik pada teori Keynes ini terlihat pada model
akselerator investasi adalah ssebanding dengan perubahan output dalam
perekonomian.
f.
Solusinya
1. Pemerintah
harus lebih mengawasi perekonomian, melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat
agar kebijakan tersebut dapat lebih menghidupkan perekonomian di Indonesia dan
dapat menarik investor-investor dalam menanamkan investasinya lebih banyak lagi
di Indonesia.
2. Lebih
meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui produk domestik brutonya, sehingga
dapat menarik investor dalam menanamkan investasinya.
3. Menjaga
tingkat inflasi dalam negeri agar tetap stabil, sehingga membuat harga-harga
dalam negeri juga tetap stabil sehingga mendorong meningkatkan investasi dalam
negeri.
#R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar