Sabtu, 13 Januari 2018

Bagaimana Krisis Remaja Puber Muncul dalam Masyarakat Islam?

Krisis yang melanda remaja puber dalam  Islam tidak meliputi seluruh kelompok. Krisis itu terbatas pada kelompok-kelompok yang tidak terbiasa beradaptasi dengan pendidikan yang benar yang ditentukan syariat Islam atau yang ditetapkan dalam aturan umum masyarakat.
Kadang-kadang seseorang tidak mampu memisahkan dunia Islam dari pengaruh masyarakat modern di Barat, terutama Negara-negara yang secara geografis lebih dekat pada masyarakat tersebut. Itulah tujuan utama dari perang budaya yang dilakukan Barat terhadap umat-umat yang lain. Hal itu karena dunia Islam adalah front ideologis yang memiliki modal sejarah yang memberinya kemampuan untuk melawan.
Karena sulitnya memisahkan dunia Islam dari pengaruh perubahan baru yang datang dari dunia industry maju, setahap semi setahap orang Muslim terpengaruh oleh banyak nilai baru, baik nilai yang benar mapun nilai yang salah, dan jauh dari prinsip-prinsip budaya Islam. Sejak saat itu, masalah-masalah baru mulai muncul. Tampaknya, pengaruh ini telah membantu masyarakat Muslim untuk menyelesaikan masalah-masalah keterbelakangan. Namun, hubungan baru membuatnya mengalami masalah-masalah perubahan.
Masalah-masalah ini telah melanda lingkungan pendidikan remaja. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh tanpa mendapatkan pendidikan dan adaptasi secara Islami yang memadai, yang dapat membantu mereka untuk menghadapi perubahan-perubahan biologis, psikologis, dan ideologis, bahkan, sebagian mereka mengambil banyak tolak ukur perilaku Barat di tengah lingkungan yang anggota-anggotanya mempercayai nilai-nilai Islam. Hal itu menyebabkan munculnya masalah-masalah perilaku pada remaja puber. Sebagainya muncul dari kenyataan keterbelakangan yang dialami umat ini, dan sebagian lain muncul dari nilai-nilai budaya individualistic yang datang dari luar yang menembus ke dalam akal orang Muslim.
Walaupu para cendikiawan Islam dan Barat berusaha merespon tuntutan pertumbuhan psikologis dan menghadapi peubahan-perubahan biologis pada fase pubertas, terapi cara-cara penanggulangan dari masing-masing pihak jauh berbeda. Memang kadang-kadang ada bagian-bagian yang sama di anatara keduanya, tetapi hal itu terjadi pada bagian-bagian yang bersifat umum. Wajarlah kalau kepribadian remaja menjadi puber menjadi korban pertentangan tajam pada sikap para cendikiawan terhadap tuntutan pertumbuhannya. Ia Muslim dalam lingkung idelologis umum serta mengenal pendidikan Islam secara persial, batasan beberapa norma, sikap-sikap Islam, seperti masalah seksual, kebebasan, kedisplinan, dan pemuasan kecenderungan. Akan tetapi, ia mendapati rangsangan-rangsangan di sekelilingnya yang bertentangan dengan norma-norma ini, sebagaimana yang terjadi, misalnya, di tempat-tempat umum di mana rangsangan-rangsangan bagi kesenangan seksual begitu terbuka. Rangsangan-rangsangan ini menekannya secara kuat. Tentu saja, itu merupakan rangsangan-rangsangan yang bertentangan dengan Islam dan nilai-nilainya, dan dengan mudah menjatuhkan remaja puber ke dalam jeratnya.
Demikianlah, karakter krisis itu pada usia pubertas di dunia Islam, baik secara social maupun edukatif pada tingkatan pertama, tidak muncul dari kehampaan. Setelah rumah Muslim, sekolah Islam, dan banyak embaga pendidikan umum di dalam masyarakat Muslim hampa dari nilai-nilai pendidikan Islam dan mereka menyerahkan kendali pendidikan pada budaya Barat, maka muncullah masalah-masalah remaja puber di samping masalah-masalah mereka sendiri yang muncul dari keterbelakangan social umat ini sebelum berhubungan dengan arus budaya Barat.
Kalau budaya baru dan budaya yang menyimpang itu mampu memahami karakter-karakter pertumbuhan pada reamaj puber dan mampu menghadapi perubahan-perubahan penting yang mncul dari fase ini, maka krisis ini tidak akan muncul di tengah remaja puber Muslim. Tentu, system nilai yang mereka dapatkan dari budaya itu sejalan dengan perubahan-perubahan tersebut. Namun, bagaimana sebuah budaya yang tidak mampu memahami wata manusia mampu mewujudkan keharmonisan pada remaja puber atau lainya?
Apabila remaja puber Muslim menghadapi dorongan seksual, maka untuk memuaskannya ia berpaling pada pernikahan jika mampu, menagguhkan pemuasan dorongan ini jika mampu, atau menggarahkannya pada kegiatan-kegiatan peribadi, social, dan relaksasi. Namun, semua ini harus dibekali dengan tolak ukur Islam yang dapat membantunya menjaga kesucian diri. Di dalam Islam tidak ada ketentuan unuk meenghilangkan dorongan fitrah atau menghalang-halangi pemuasannya. Islam hanya menentukan pemuasan yang rasional pada waktu yang sesuai atau menangguhkan pemuasan dorongan-doronganitu hingga waktu tertentu.
Sistem nilai utama yang ditumbuhkan pendidik Muslim selama masa kanak-kanak cukup untuk menghindarkan seseorang dari kesulitan-kesulitan yang menyebabkan krisis pada remaja puber Muslim.
Demikian pula, usaha pendidik Muslim dalam memuaskan kebutuhan remaja puber terhadap kebebasan dan pengukuhan diri dengan cara menumbuhkan perasaan tanggung jawab pada dirinya dan menghargai eksistensi dirinya sejak usia dini. Bahkan sejak ia masih berupa janin di dalam perut ibunya, seperti menangguhkan pembangian harta warisan untuk menunggu kelahirannya dan memastikan jenis kelaminya. Setelah itu, ia diperlukan secara sama menurut nilai kemanusiaan dengan anggota keluarga yang lain.
Krisis-krisis dalam usia pubertas kadang-kadang tidak berpengaruh apabila Muslim memahami seluruh hokum syariat yang mengatur perilaku remaja puber, baik muncul akibat perkembangan biologis, seksual murni, maupun akibat keadaan budaya. Hukum-hukum ini mendorong pendidik untuk menghdapi berbagai masalah yang akan muncul dengan sikap yang benar, baik yang berkenaan dengan masalah seksual maupun hubungan-hubungan pribadi remaja puber dengan orang lain, keluarga, serta teman-temannya. Selain itu, hokum-hukum ini dipersiapkan untuk melatih individual yang masih kanak-kanak untuk memikul beban pada fase-fase berikutnya dan menghadapi perubahan-perubahan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.


#R    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar