Sabtu, 13 Januari 2018

Ibu adalah Sekolah

Mendidik anak dimulai sejak kecil karena pada masa kanak-kanak pikiran anak sangat jernih, ingatannya sangat kuat, dan semangat belajarnya sangat tinggi.
Rasulullah SAW bersabda, “Ilmu (yang didapat) pada masa kecil (akan membekas) bagaikan ukiran pada batu.” (HR.Al-Baihaqi dan Thabrani).
Seorang ibu memikul amanat dan tanggung jawab terhadap anak-anaknya yang berada di bawah pengawasannya. Dialah yang mendidik, mempersiapkan, dan mengarahkan mereka. Sangatlah tepat jika seorang penyair berkata:
“Ibu adalah sekolah
Jika engkau mempersiapkannya
Berarti engkau mempersiapkan suatu bangsa
Yang mempunyai akar-akar yang baik”
Tanggung jawab seorang ibu sama besarnya dengan tanggung jawab seorang bapak. Bahkan, bagi seorang ibu tanggung jawab itu lebih berat, lantaran ibulah yang selalu berdampingan dengan anaknya semejak dilahirkan hingga tumbuh besar dan mencapai usia yang layak untuk memikul kewajiban. Rasulullah SAW telah mengkhususkan tanggung jawab ibu dengan sabdanya, “Dan ibu adalah seorang pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap (anak-anak) yang diasuhnya itu.” (HR.Bukhari-Muslim)
Bukan berarti seorang ibu diharamkan untuk bekerja karena tidak ada satu pun nash Al-Qur’an dan hadits yang melarang wanita bekerja. Hanya, jika seorang ibu meremehkan kewajiban akan pendidikan anak-anak karena sibuk dengan karir, asyik dengan teman-temannnya, dan sering keluar rumah, anak-anak hidup seperti tanpa seorang ibu dan terasing. Secara tak langsung, mereka akan menjadi penyebab kerusakan umat.
Alangkah benarnya seorang penyair mengatakan:
Bukanlah anak yatim itu adalah anak
Yang kedua orang tuanya telah selesai menanggung derita
Hidup (mati) dan meninggalkannya sebagai anak yang hina.
Tetapi anak yatim itu adalah yang mendapatkan seorang ibu yang
Melantarkannya atau seorang bapak yang sibuk
(tidak menghiraukannya)
Apa yang kita harapkan dari anak-anak yang ibunya berada dalam keadaan seperti ini, yakni meremehkan dan membiarkan mereka?
Sudah barang tentu kita tidak bisa banyak berharap dari mereka selain dari lahirnya kenakalan dan kejahatan, karena ibu tidak memperhatikan pendidikan anaknya dan ayah juga meremehkan kewajibannya di dalam mendidik dan mengawasinya.
Situasi ini akan semakin buruk jika kedua orang tua mempergunakan waktunya untu melakukan maksiat. Bergemilang di dalam haw nafsu dan keleatan dunia, serta terjemurus di dalam perbuatan-perbuatan menghalalkan segala cara. Oleh karenanya, tidak diragukan lagi bahwa anak akan lebih nakal dan lebih berbahaya.
Pohon yang tumbuh di dalam kebun
Tidaklah sama dengan pohon yang tumbuh
Di dalam padang yang tandus,
Apakah anak-anak diharapkan akan tumbuh secara sempurna, jika
Mereka menyusu dari payudara  yang mongering
Kehdiran seorang ibu shalehah adalah dasar pendidikan yang wajib  dijadikan landasan oleh rumah tangga setiap muslim. Seorang ibu yang shalehah diharapkan mampu memosisikan dirinya sebagai pengontrol anak-anak.
Dari kebeningan hati ibu, anak belajar untuk bersikap jujur pada dirinya sendiri dan dunia. Dari tutur kata yang lembut seorang ibu, anak belajar untuk berkata kebenaran pada siapa pun. Ibulah pendidik utama dan pertama bagi anak dan rumah adalah lembaga petama anak-anak mengenal sebagai ilmu di dunia ini.
Ibu, hiasilah rumah kita dengan ilmu, terutama ilmu yng mengantarkan kita sekeluarga menuju kecintaan pada Allah SWT. Demi menyadari diri sebagai seorang ibu yang merupakan pendidik utama dan pertama buat hati, alangkah baiknya jika ibu menambah pengetahuan lewat buku atau majelis-majelis zikir dan ilmu.


#R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar