Mendidik
anak dimulai sejak kecil karena pada masa kanak-kanak pikiran anak sangat
jernih, ingatannya sangat kuat, dan semangat belajarnya sangat tinggi.
Rasulullah
SAW bersabda, “Ilmu (yang didapat) pada masa kecil (akan membekas) bagaikan
ukiran pada batu.” (HR.Al-Baihaqi dan Thabrani).
Seorang
ibu memikul amanat dan tanggung jawab terhadap anak-anaknya yang berada di
bawah pengawasannya. Dialah yang mendidik, mempersiapkan, dan mengarahkan
mereka. Sangatlah tepat jika seorang penyair berkata:
“Ibu adalah sekolah
Jika engkau mempersiapkannya
Berarti engkau mempersiapkan suatu bangsa
Yang mempunyai akar-akar yang baik”
Tanggung
jawab seorang ibu sama besarnya dengan tanggung jawab seorang bapak. Bahkan,
bagi seorang ibu tanggung jawab itu lebih berat, lantaran ibulah yang selalu berdampingan
dengan anaknya semejak dilahirkan hingga tumbuh besar dan mencapai usia yang
layak untuk memikul kewajiban. Rasulullah SAW telah mengkhususkan tanggung
jawab ibu dengan sabdanya, “Dan ibu adalah seorang pemimpin di dalam rumah
suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap (anak-anak) yang diasuhnya itu.”
(HR.Bukhari-Muslim)
Bukan
berarti seorang ibu diharamkan untuk bekerja karena tidak ada satu pun nash Al-Qur’an
dan hadits yang melarang wanita bekerja. Hanya, jika seorang ibu meremehkan
kewajiban akan pendidikan anak-anak karena sibuk dengan karir, asyik dengan
teman-temannnya, dan sering keluar rumah, anak-anak hidup seperti tanpa seorang
ibu dan terasing. Secara tak langsung, mereka akan menjadi penyebab kerusakan
umat.
Alangkah
benarnya seorang penyair mengatakan:
Bukanlah anak yatim itu adalah anak
Yang kedua orang tuanya telah selesai menanggung
derita
Hidup (mati) dan meninggalkannya sebagai anak yang
hina.
Tetapi anak yatim itu adalah yang mendapatkan
seorang ibu yang
Melantarkannya atau seorang bapak yang sibuk
(tidak menghiraukannya)
Apa
yang kita harapkan dari anak-anak yang ibunya berada dalam keadaan seperti ini,
yakni meremehkan dan membiarkan mereka?
Sudah
barang tentu kita tidak bisa banyak berharap dari mereka selain dari lahirnya
kenakalan dan kejahatan, karena ibu tidak memperhatikan pendidikan anaknya dan
ayah juga meremehkan kewajibannya di dalam mendidik dan mengawasinya.
Situasi
ini akan semakin buruk jika kedua orang tua mempergunakan waktunya untu
melakukan maksiat. Bergemilang di dalam haw nafsu dan keleatan dunia, serta
terjemurus di dalam perbuatan-perbuatan menghalalkan segala cara. Oleh karenanya,
tidak diragukan lagi bahwa anak akan lebih nakal dan lebih berbahaya.
Pohon yang tumbuh di dalam kebun
Tidaklah sama dengan pohon yang tumbuh
Di dalam padang yang tandus,
Apakah anak-anak diharapkan akan tumbuh secara sempurna,
jika
Mereka menyusu dari payudara yang mongering
Kehdiran
seorang ibu shalehah adalah dasar pendidikan yang wajib dijadikan landasan oleh rumah tangga setiap
muslim. Seorang ibu yang shalehah diharapkan mampu memosisikan dirinya sebagai pengontrol
anak-anak.
Dari
kebeningan hati ibu, anak belajar untuk bersikap jujur pada dirinya sendiri dan
dunia. Dari tutur kata yang lembut seorang ibu, anak belajar untuk berkata
kebenaran pada siapa pun. Ibulah pendidik utama dan pertama bagi anak dan rumah
adalah lembaga petama anak-anak mengenal sebagai ilmu di dunia ini.
Ibu,
hiasilah rumah kita dengan ilmu, terutama ilmu yng mengantarkan kita sekeluarga
menuju kecintaan pada Allah SWT. Demi menyadari diri sebagai seorang ibu yang
merupakan pendidik utama dan pertama buat hati, alangkah baiknya jika ibu
menambah pengetahuan lewat buku atau majelis-majelis zikir dan ilmu.
#R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar