“Sesungguhnya Allah
tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].
Barru di tahun 2025 akan mengalami bonus demografi
(demographic dividend). Bonus demografi adalah sebuah keadaan dimana Indonesia
akan mengalami bonus (kelebihan) yang sangat tinggi pada kelompok usia
produktif (15-64 tahun) sebagai bagian dari proses revolusi pupolasi sebuah
Negara. Saat ini saja, penduduk Indonesia mencapai 253 juta dengan 67,2
persennya adalah kelompok usia produktif.
Sementara itu, melimpahnya jumlah penduduk muda di berbagai
wilayah provinsi Indonesia telah mnciptakan bonus demografi. Bonus demografi
dibeberapa provinsi di Indonesia tersebut dapat dilihat dengan parameter Dependency
Ratio yang cukup rendah, yaitu mencapai dibawah 45. Yang berarti bahwa
dalam setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) hanya menanggung sekitar
45 penduduk tidak produktif (0-14 dan 65 tahun ke atas). Perhatikan data
dependency ratio menurut Provinsi di Indonesia pada tabel 1 berikut.
Tabel.1 Dependency Ratio
menurut Provinsi, 2010-2035
|
Provinsi
|
Tahun
|
|||||
|
2010
|
2015
|
2020
|
2025
|
2030
|
2035
|
|
|
Aceh
|
56,3
|
54,8
|
53,6
|
50,8
|
47,9
|
45,8
|
|
Sumatera Utara
|
58,0
|
56,3
|
55,3
|
53,6
|
51,7
|
50,8
|
|
Sumatera Barat
|
57,7
|
55,8
|
54,8
|
53,6
|
51,7
|
50,6
|
|
Riau
|
54,1
|
51,5
|
49,7
|
48,4
|
47,1
|
46,6
|
|
Jambi
|
50,8
|
47,3
|
44,5
|
43,3
|
42,7
|
42,7
|
|
Sumatera Selatan
|
51,3
|
49,7
|
48,4
|
47,3
|
45,8
|
45,3
|
|
Bengkulu
|
51,3
|
47,9
|
46,2
|
44,9
|
44,3
|
44,5
|
|
Lampung
|
51,1
|
49,5
|
48,6
|
47,3
|
45,6
|
45,3
|
|
Kepulauan Bangka Belitung
|
48,6
|
46,2
|
44,9
|
44,3
|
43,3
|
43,1
|
|
Kepulauan Riau
|
46,8
|
49,7
|
46,4
|
41,8
|
38,1
|
37,9
|
|
DKI Jakarta
|
37,4
|
39,9
|
42,0
|
42,2
|
40,1
|
39,5
|
|
Jawa Barat
|
49,9
|
47,7
|
46,4
|
46,4
|
46,2
|
46,6
|
|
Jawa Tengah
|
49,9
|
48,1
|
47,7
|
48,4
|
49,9
|
51,7
|
|
DI Yogyakarta
|
45,8
|
44,9
|
45,6
|
46,8
|
47,7
|
48,4
|
|
Jawa Timur
|
46,2
|
44,3
|
43,9
|
44,3
|
46,2
|
48,4
|
|
Banten
|
48,6
|
46,4
|
45,3
|
43,9
|
41,8
|
41,0
|
|
Bali
|
47,3
|
45,6
|
43,3
|
42,2
|
43,3
|
45,8
|
|
Nusa Tenggara Barat
|
55,8
|
53,8
|
52,2
|
50,2
|
48,6
|
48,1
|
|
Nusa Tenggara Timur
|
70,6
|
66,7
|
63,4
|
62,1
|
61,6
|
61,6
|
|
Kalimantan Barat
|
52,7
|
50,8
|
49,7
|
48,8
|
47,3
|
46,6
|
|
Kalimantan Tengah
|
50,4
|
46,2
|
43,3
|
41,4
|
40,3
|
39,9
|
|
Kalimantan Selatan
|
49,3
|
48,6
|
47,7
|
46,2
|
44,7
|
44,7
|
|
Kalimantan Timur
|
48,6
|
46,2
|
44,5
|
43,7
|
43,1
|
43,5
|
|
Sulawesi Utara
|
47,9
|
46,6
|
46,4
|
46,8
|
47,3
|
48,4
|
|
Sulawesi Tengah
|
52,7
|
50,6
|
49,7
|
49,5
|
48,6
|
48,6
|
|
Sulawesi Selatan
|
56,0
|
52,9
|
51,3
|
50,4
|
49,5
|
49,7
|
|
Sulawesi Tenggara
|
63,4
|
60,5
|
58,0
|
54,6
|
52,7
|
51,5
|
|
Gorontalo
|
51,7
|
48,6
|
47,5
|
47,7
|
47,7
|
47,9
|
|
Sulawesi Barat
|
60,5
|
56,0
|
53,8
|
52,7
|
51,5
|
51,1
|
|
Maluku
|
63,1
|
59,7
|
58,2
|
57,5
|
55,8
|
54,3
|
|
Maluku Utara
|
61,3
|
58,5
|
56,0
|
53,4
|
51,5
|
50,8
|
|
Papua Barat
|
53,6
|
49,9
|
47,1
|
45,3
|
44,3
|
43,7
|
|
Papua
|
53,8
|
47,5
|
43,7
|
42,0
|
41,6
|
42,2
|
|
INDONESIA
|
50,5
|
48,6
|
47,7
|
47,2
|
46,9
|
47,3
|
Sumber:
BPS Indonesia
Hasil berbagai kajian
ilmiah tentang tentang bonus demografi menunjukkan bahwa bonus demografi akan
menjadi berkah dan sebaliknya akan menjadi bencana jika tidak dipersiapkan
kedatangannya . untuk itu dalam menghadapi bonus demografi di Barru, kita sebagai
pemuda dituntut untuk mempersiapkan diri menjadi pemuda yang handal. Hal ini
sejalan dengan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Barru yang
cerdas dan kompetitif. Cerdas yang dimaksud adalah cerdas komprehensif, yaitu
cerdas spiritual dan cerdas sosial-emosional dalam ranah sikap, cerdas
intelektual dalam ranah pengetahuan, serta cerdas kinestetis dalam ranah
keterampilan.
Dengan demikian, maka
tugas utama kita sebagai pemuda Barru adalah mempersiapkan diri menghadapi
datangnya bonus demografi. Pemuda yang siap menghadapi bonus demografi adalah
pemuda yang memiliki karakteristik seperti beriman, produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif. Jika berbagai aspek kompetensi tersebut dapat di miliki
oleh pemuda Barru akan mampu menjadi
pelopor bonus demografi. Karena Pemuda Barru yang demikian diharapkan akan
berkontribusi positif pada kehidupan bermasyarakat, bernegara, bahkan bagi
peradaban dunia.
Salah satu kendala
terbesar yang dihadapi negara berkembang adalah susahnya menyiapkan lapangan
kerja bagi penduduk produktif. Akan tetapi jika pemuda yang memiliki banyak
kompetensi maka pemuda yang tidak hanya dapat dengan mudah terserap di dunia
kerja tetapi dapat juga menciptakan lapangan kerja. Jika lapangan kerja banyak
maka tentunya angka pengangguran menurun, akan tetapi jika lapangan kerja
sedikit, maka angka pengangguran akan meningkat.
Di tengah melesunya sector dan sekunder kita masih bisa berharap dengan
perkembangan sector tersier seperti jasa, keuangn, retail, wisata, dan industry
atau ekonomi kreatif. Menurut Howkins, Ekonomi Kreatif terdiri dari periklanan,
arsitektur, seni, kerajainan, desain, fashion, film, music, seni pertunjukkan,
penerbitan, penelitian dan pengembangan (R&D), perangkat lunak, mainan dan
permainan, Televisi dan radio, dan permainan video (Video Game), kuliner.
Menurut
perdangangan Indonesia Industri kreatif didefinisikan sebagai industry yang
berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk
menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasikan dan
mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Dari pengertian
tersebut jelas bahwa unsure kreatifitas atau inovasi menjadi bagian terpenting
bagi pengembangan industry kreatif invenstment dalam bisnis ini lebih
disandarkan kepada modal intelektual (intellectual
capital) bukan pada modal keuangan (financial
capital).
Perang strategi
pemerintah sangat dinantikan dalam mendorong pemuda Barru untuk dapat
menyiapkan diri menjadi entrepreneur baru
yang mengusung industry kreatif sebagai modal bisnis mereka. Industry ini
sesungguhnya sangat lekal dengan kehidupan pemuda Barru. Mereka adalah sosok
yang penuh percaya diri menyenangi tantangan dan penuh dengan ide-ide “gila”
yang kadang diluar kebiasaan (out of box).
Jika keberhasilan
China memanfaatkan bonus demograminya melalui sector manufaktur, diharapkan
juga pemuda Barru mampu memanfaatkan tumbuhnya industry kreatif sebagai sector
penyerap banyak tenaga kerja karena sifatnya yang padat karya tersebut. Dari
banyaknya tenaga kerja yang terserap inilah tentunya kita bisa berharap
pendapatan penduduk meningkat yang berarti pula akan meningkatkannya aggregate saving. Dari saving itulah bisa dibiyai investasi-investasi
besar yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Barru
sebagai kabupaten dan penopang utama masyarakat harus juga mulai memikirkan
bagaimana ke depan menghadapi bonus demografi tersebut. Dengan perkembangan
Kabupaten Barru yang semakin membaik tentu akan mengundang dan menarik pemuda
Barru harus menghadapi persoalan penduduk local sendiri juga harus memikirkan
penduduk dari luar.
Karenanya
menjadi relevan bagi Kabupaten Barru untuk mengambarkan potensi yang yang
dimilikinya. Salah satu potensi yang dominan saat ini adalah maraknya industry kuliner
dan jasa hiburan seperti kita ketahui pajak atau restribusi daerah dari sector
ini salah satu andalan penerimaan kas daerah di samping pajak property.
Optimalisasi
potensi yang ada tersebut dan juga mengembangkan industry kreatif di sektornya
seperti seni kerajinan, pertunjukan, fashion, disain, dan lainnya tertentu akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barru yang sekarang terbilang cukup
tinggi. Pengembangan sektor tersebut bukan hal yang terlalu sulit mengingat
kualitas SDM Barru juga relative lebih baik di banding daerah lain. Daya dukung
inilah yang bisa dimanfaatkan untuk memanfatkan kesempatan emas mengejar
ketertinggalan dari Kabupaten lain saat datang bonus demografi kelak.
Kewirausahan
pemuda Barru saat ini harus diberdayakan dengan menyediakan program-program dan
kebijakan yang menstimulus pemuda untuk aktif berwirausaha. Kabupaten Barru
memerlukan pengusaha pemuda yang lebih banyak dari saat ini untuk mengelola
potensinya yang cukup banyak juga demografi wilayahnya yang strategis
memungkinkan untuk dapat mendatangkan pasar yang luas dari wilayah-wilayah di
sekitar Barru.
Disinilah
peran strategis pemuda akan diuji, sejauh mana dia mampu adaptif terhadap
peluang dan potensi yang dimilikinya guna meramunya menjadi kekutan nyata dalam
membangun Kabupaten Barru yang lebih baik investasi SDM saat ini menjadi kunci
keberhasilan kewirausahaan akan mampu menjadi contributor kemajuan Indonesia.
Berdasarkan
dari paparan data dan analisis yang telah disajikan sebelumnya, maka dapat
disusun beberapa strategi untuk menghadapi bonus demografi tahun 2025-2035.
Rancangan strategi ini berupa suatu intervensi sosial melalui berbegai
kebijakan pemerintah. Intervensi sosial dalam bentuk kebijakan pemerintah ini
bertujuan untuk memperbaiki dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki,
baik individu, kelompok maupun negara. Intervensi yang dapat dilakukan
setidaknya meliputi empat aspek penting yaitu disektor pendidikan, sektor
kesehatan, ketenaga kerjaan dan program Keluarga Berencana.
Empat
aspek penting yang terdiri dari kualitas pendidikan, kualitas kesehatan,
ketenagakerjaan dan program keluarga berencana tersebut menjadi kunci utama
keberhasilan pembangunan pada fase bonus demografi. Untuk itu, berbagai
intervensi yang tepat pada empat sektor ini menjadi prioritas utama dalam
menghadapi dan menyambut bonus demografi tahun 2025 hingga 2035. Berikut ini
beberapa strategi dalam bentuk kebijakan yang bisa dijalankan pemerintah untuk
menghadapi bonus demografi:
1. Strategi
dibidang Pendidikan:
a. Peningkatan
kualitas pendidikan melalui wajib belajar 12 tahun (sampai tingkat SMA/SMK).
b. Tidak
hanya sampai tingkat SMA, dalam jangka panjang bisa ditingakatkan secara
konsisten kesempatan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi.
c. Untuk
mendukung keberhasilan wajib belajar 12 tahun, dan sampai jenjang perguruan
tinggi, maka diperlukan berbagai program bantuan biaya pendidikan (Beasiswa).
Dengan beasiswa prestasi dan beasiswa keluarga miskin dapat meningkatkan Angka
Partisipasi Sekolah sampai tingkat SMA/SMK, dan juga sampai jenjang perguruan
tinggi.
d. Meningkatkan
sarana dan prasarana pendidikan seperti fasilitas laboratorium yang lengkap,
fasilitas multimedia, gedung sekolah dan lain sebaginya. Dengan fasilitas yang
lengkap tentu akan mendukung kegiatan belajar siswa dan mamacu peningkatan
prestasi.
e. Meningkatkan
kualitas tenaga pengajar/Guru/Dosen.
f. Menambah alokasi dana untuk anggaran pendidikan
2. Strategi dibidang
Kesehatan
a. Meningkatkan
anggaran untuk Kesehatan
b. Meningkatkan
kualitas tenaga medis seperti Dokter, Bidan, Perawat dsb.
c. Meningkatkan
saranan dan prasaranan kesehatan seperti: pembangunan fasilitas kesehatan di
daerah yang belum memiliki, manambah kelengkapan fasilitas kesehatan, fasilitas
Rawat inap, penambahan Rumah sakit milik pemerintah sebagai pemberi layanan
kesehatan gratis, dan lain sebaginya.
d. Penyediaan layanan kesehatan dalam kerangka bonus
demografi diperioritaskan kepada penduduk usia 0-18 tahun (usia emas). Program
riil bagi penduduk usia emas ini (usia perkembangan) meliputi penggalakan
program “asi eksklusif”, pemberian makanan bergizi, imunisasi, dan lain
sebagainya.
e. Selain
ditujukan untuk penduduk usia 0-18, layanan kesehatan juga ditujukan kepada
penduduk usi 19-21 tahun, karena sebagi penduduk yang akan memasuki dunia
kerja. Sehingga kualitas keseatan penduduk usia ini perlu diperhatikan sebagi
syarat kesiapan dalam memasuki dunia kerja.
3. Strategi dibidang
Ketenagakerjaan
a. Menekan
angka pengangguran dengan memberikan kesempatan kerja yang luas melaui
penyediaan lapangan kerja yang banyak
b. Penyediaan
dan penambahan lapangan kerja disesuaikan dengan kemampuan para pencari kerja.
c. Pengembangan
UMKM sebagai sektor informal yang lebih fleksibel dalam penyerapan lapangan
kerja
d. Menciptakan
angkatan kerja yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,
untuk bisa bersaing di dunia internasional.
4. Strategi dibidang Keluarga
Berencana untuk menekan angka fertilitas
a.
Meningkatkan aseptor KB
b.
Mendorong dan meningkatkan Aseptor KB
laki-laki.
c.
Penyuluhan untuk kesehatan reproduksi dan
pernikahan dini
d.
Disusun UU mengenai batas usia minimum
pernikahan
Untuk menghadapi bonus
demografi maka diperlukan persiapan yang matang. Pemerintah mestinya lebih
mengutamakan kualitas penduduk dari pada kuantitas penduduk. Hal ini harus
berawal dari kesadaran pemuda Barru, yakni harus berawal dari pribadi yang
berkualitas, menjadi keluarga kecil yang berkualitas, menuju masyarakat yang
berkualitas, dan pada akhirnya akan menjadi bangsa yang berkualitas.
#R

Tidak ada komentar:
Posting Komentar