Kamis, 18 Januari 2018

PERAN PEMUDA BARRU MENGHADAPI BONUS DEMOGRAFI


“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].
            Barru di tahun 2025 akan mengalami bonus demografi (demographic dividend). Bonus demografi adalah sebuah keadaan dimana Indonesia akan mengalami bonus (kelebihan) yang sangat tinggi pada kelompok usia produktif (15-64 tahun) sebagai bagian dari proses revolusi pupolasi sebuah Negara. Saat ini saja, penduduk Indonesia mencapai 253 juta dengan 67,2 persennya adalah kelompok usia produktif.
Sementara itu, melimpahnya jumlah penduduk muda di berbagai wilayah provinsi Indonesia telah mnciptakan bonus demografi. Bonus demografi dibeberapa provinsi di Indonesia tersebut dapat dilihat dengan parameter Dependency Ratio yang cukup rendah, yaitu mencapai dibawah 45. Yang berarti bahwa dalam setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) hanya menanggung sekitar 45 penduduk tidak produktif (0-14 dan 65 tahun ke atas). Perhatikan data dependency ratio menurut Provinsi di Indonesia pada tabel 1 berikut.
Tabel.1 Dependency Ratio menurut Provinsi, 2010-2035
Provinsi
Tahun
2010
2015
2020
2025
2030
2035
Aceh
 56,3
 54,8
 53,6
 50,8
 47,9
 45,8
Sumatera Utara
 58,0
 56,3
 55,3
 53,6
 51,7
 50,8
Sumatera Barat
 57,7
 55,8
 54,8
 53,6
 51,7
 50,6
Riau
 54,1
 51,5
 49,7
 48,4
 47,1
 46,6
Jambi
 50,8
 47,3
 44,5
 43,3
 42,7
 42,7
Sumatera Selatan
 51,3
 49,7
 48,4
 47,3
 45,8
 45,3
Bengkulu
 51,3
 47,9
 46,2
 44,9
 44,3
 44,5
Lampung
 51,1
 49,5
 48,6
 47,3
 45,6
 45,3
Kepulauan Bangka Belitung
 48,6
 46,2
 44,9
 44,3
 43,3
 43,1
Kepulauan Riau
 46,8
 49,7
 46,4
 41,8
 38,1
 37,9
DKI Jakarta
 37,4
 39,9
 42,0
 42,2
 40,1
 39,5
Jawa Barat
 49,9
 47,7
 46,4
 46,4
 46,2
 46,6
Jawa Tengah
 49,9
 48,1
 47,7
 48,4
 49,9
 51,7
DI Yogyakarta
 45,8
 44,9
 45,6
 46,8
 47,7
 48,4
Jawa Timur
 46,2
 44,3
 43,9
 44,3
 46,2
 48,4
Banten
 48,6
 46,4
 45,3
 43,9
 41,8
 41,0
Bali
 47,3
 45,6
 43,3
 42,2
 43,3
 45,8
Nusa Tenggara Barat
 55,8
 53,8
 52,2
 50,2
 48,6
 48,1
Nusa Tenggara Timur
 70,6
 66,7
 63,4
 62,1
 61,6
 61,6
Kalimantan Barat
 52,7
 50,8
 49,7
 48,8
 47,3
 46,6
Kalimantan Tengah
 50,4
 46,2
 43,3
 41,4
 40,3
 39,9
Kalimantan Selatan
 49,3
 48,6
 47,7
 46,2
 44,7
 44,7
Kalimantan Timur
 48,6
 46,2
 44,5
 43,7
 43,1
 43,5
Sulawesi Utara
 47,9
 46,6
 46,4
 46,8
 47,3
 48,4
Sulawesi Tengah
 52,7
 50,6
 49,7
 49,5
 48,6
 48,6
Sulawesi Selatan
 56,0
 52,9
 51,3
 50,4
 49,5
 49,7
Sulawesi Tenggara
 63,4
 60,5
 58,0
 54,6
 52,7
 51,5
Gorontalo
 51,7
 48,6
 47,5
 47,7
 47,7
 47,9
Sulawesi Barat
 60,5
 56,0
 53,8
 52,7
 51,5
 51,1
Maluku
 63,1
 59,7
 58,2
 57,5
 55,8
 54,3
Maluku Utara
 61,3
 58,5
 56,0
 53,4
 51,5
 50,8
Papua Barat
 53,6
 49,9
 47,1
 45,3
 44,3
 43,7
Papua
 53,8
 47,5
 43,7
 42,0
 41,6
 42,2
INDONESIA
 50,5
 48,6
 47,7
 47,2
 46,9
 47,3
Sumber: BPS Indonesia
Hasil berbagai kajian ilmiah tentang tentang bonus demografi menunjukkan bahwa bonus demografi akan menjadi berkah dan sebaliknya akan menjadi bencana jika tidak dipersiapkan kedatangannya . untuk itu dalam menghadapi bonus demografi di Barru, kita sebagai pemuda dituntut untuk mempersiapkan diri menjadi pemuda yang handal. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan tahun 2025 yaitu menciptakan insan Barru yang cerdas dan kompetitif. Cerdas yang dimaksud adalah cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual dan cerdas sosial-emosional dalam ranah sikap, cerdas intelektual dalam ranah pengetahuan, serta cerdas kinestetis dalam ranah keterampilan.
Dengan demikian, maka tugas utama kita sebagai pemuda Barru adalah mempersiapkan diri menghadapi datangnya bonus demografi. Pemuda yang siap menghadapi bonus demografi adalah pemuda yang memiliki karakteristik seperti beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Jika berbagai aspek kompetensi tersebut dapat di miliki oleh  pemuda Barru akan mampu menjadi pelopor bonus demografi. Karena Pemuda Barru yang demikian diharapkan akan berkontribusi positif pada kehidupan bermasyarakat, bernegara, bahkan bagi peradaban dunia.
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi negara berkembang adalah susahnya menyiapkan lapangan kerja bagi penduduk produktif. Akan tetapi jika pemuda yang memiliki banyak kompetensi maka pemuda yang tidak hanya dapat dengan mudah terserap di dunia kerja tetapi dapat juga menciptakan lapangan kerja. Jika lapangan kerja banyak maka tentunya angka pengangguran menurun, akan tetapi jika lapangan kerja sedikit, maka angka pengangguran akan meningkat.
            Di tengah melesunya sector dan sekunder kita masih bisa berharap dengan perkembangan sector tersier seperti jasa, keuangn, retail, wisata, dan industry atau ekonomi kreatif. Menurut Howkins, Ekonomi Kreatif terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajainan, desain, fashion, film, music, seni pertunjukkan, penerbitan, penelitian dan pengembangan (R&D), perangkat lunak, mainan dan permainan, Televisi dan radio, dan permainan video (Video Game), kuliner.
            Menurut perdangangan Indonesia Industri kreatif didefinisikan sebagai industry yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasikan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Dari pengertian tersebut jelas bahwa unsure kreatifitas atau inovasi menjadi bagian terpenting bagi pengembangan industry kreatif invenstment dalam bisnis ini lebih disandarkan kepada modal intelektual (intellectual capital) bukan pada modal keuangan (financial capital).
Perang strategi pemerintah sangat dinantikan dalam mendorong pemuda Barru untuk dapat menyiapkan diri menjadi entrepreneur baru yang mengusung industry kreatif sebagai modal bisnis mereka. Industry ini sesungguhnya sangat lekal dengan kehidupan pemuda Barru. Mereka adalah sosok yang penuh percaya diri menyenangi tantangan dan penuh dengan ide-ide “gila” yang kadang diluar kebiasaan (out of box).
Jika keberhasilan China memanfaatkan bonus demograminya melalui sector manufaktur, diharapkan juga pemuda Barru mampu memanfaatkan tumbuhnya industry kreatif sebagai sector penyerap banyak tenaga kerja karena sifatnya yang padat karya tersebut. Dari banyaknya tenaga kerja yang terserap inilah tentunya kita bisa berharap pendapatan penduduk meningkat yang berarti pula akan meningkatkannya aggregate saving. Dari saving itulah bisa dibiyai investasi-investasi besar yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
            Barru sebagai kabupaten dan penopang utama masyarakat harus juga mulai memikirkan bagaimana ke depan menghadapi bonus demografi tersebut. Dengan perkembangan Kabupaten Barru yang semakin membaik tentu akan mengundang dan menarik pemuda Barru harus menghadapi persoalan penduduk local sendiri juga harus memikirkan penduduk dari luar.  
            Karenanya menjadi relevan bagi Kabupaten Barru untuk mengambarkan potensi yang yang dimilikinya. Salah satu potensi yang dominan saat ini adalah maraknya industry kuliner dan jasa hiburan seperti kita ketahui pajak atau restribusi daerah dari sector ini salah satu andalan penerimaan kas daerah di samping pajak property.
            Optimalisasi potensi yang ada tersebut dan juga mengembangkan industry kreatif di sektornya seperti seni kerajinan, pertunjukan, fashion, disain, dan lainnya tertentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barru yang sekarang terbilang cukup tinggi. Pengembangan sektor tersebut bukan hal yang terlalu sulit mengingat kualitas SDM Barru juga relative lebih baik di banding daerah lain. Daya dukung inilah yang bisa dimanfaatkan untuk memanfatkan kesempatan emas mengejar ketertinggalan dari Kabupaten lain saat datang bonus demografi kelak.
            Kewirausahan pemuda Barru saat ini harus diberdayakan dengan menyediakan program-program dan kebijakan yang menstimulus pemuda untuk aktif berwirausaha. Kabupaten Barru memerlukan pengusaha pemuda yang lebih banyak dari saat ini untuk mengelola potensinya yang cukup banyak juga demografi wilayahnya yang strategis memungkinkan untuk dapat mendatangkan pasar yang luas dari wilayah-wilayah di sekitar Barru.
            Disinilah peran strategis pemuda akan diuji, sejauh mana dia mampu adaptif terhadap peluang dan potensi yang dimilikinya guna meramunya menjadi kekutan nyata dalam membangun Kabupaten Barru yang lebih baik investasi SDM saat ini menjadi kunci keberhasilan kewirausahaan akan mampu menjadi contributor kemajuan Indonesia.
Berdasarkan dari paparan data dan analisis yang telah disajikan sebelumnya, maka dapat disusun beberapa strategi untuk menghadapi bonus demografi tahun 2025-2035. Rancangan strategi ini berupa suatu intervensi sosial melalui berbegai kebijakan pemerintah. Intervensi sosial dalam bentuk kebijakan pemerintah ini bertujuan untuk memperbaiki dan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki, baik individu, kelompok maupun negara. Intervensi yang dapat dilakukan setidaknya meliputi empat aspek penting yaitu disektor pendidikan, sektor kesehatan, ketenaga kerjaan dan program Keluarga Berencana.
Empat aspek penting yang terdiri dari kualitas pendidikan, kualitas kesehatan, ketenagakerjaan dan program keluarga berencana tersebut menjadi kunci utama keberhasilan pembangunan pada fase bonus demografi. Untuk itu, berbagai intervensi yang tepat pada empat sektor ini menjadi prioritas utama dalam menghadapi dan menyambut bonus demografi tahun 2025 hingga 2035. Berikut ini beberapa strategi dalam bentuk kebijakan yang bisa dijalankan pemerintah untuk menghadapi bonus demografi:
1. Strategi dibidang Pendidikan:
a.       Peningkatan kualitas pendidikan melalui wajib belajar 12 tahun (sampai tingkat SMA/SMK).
b.      Tidak hanya sampai tingkat SMA, dalam jangka panjang bisa ditingakatkan secara konsisten kesempatan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi.
c.       Untuk mendukung keberhasilan wajib belajar 12 tahun, dan sampai jenjang perguruan tinggi, maka diperlukan berbagai program bantuan biaya pendidikan (Beasiswa). Dengan beasiswa prestasi dan beasiswa keluarga miskin dapat meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah sampai tingkat SMA/SMK, dan juga sampai jenjang perguruan tinggi.
d.      Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan seperti fasilitas laboratorium yang lengkap, fasilitas multimedia, gedung sekolah dan lain sebaginya. Dengan fasilitas yang lengkap tentu akan mendukung kegiatan belajar siswa dan mamacu peningkatan prestasi.
e.       Meningkatkan kualitas tenaga pengajar/Guru/Dosen.
f.        Menambah alokasi dana untuk anggaran pendidikan
2. Strategi dibidang Kesehatan
a.       Meningkatkan anggaran untuk Kesehatan
b.      Meningkatkan kualitas tenaga medis seperti Dokter, Bidan, Perawat dsb.
c.       Meningkatkan saranan dan prasaranan kesehatan seperti: pembangunan fasilitas kesehatan di daerah yang belum memiliki, manambah kelengkapan fasilitas kesehatan, fasilitas Rawat inap, penambahan Rumah sakit milik pemerintah sebagai pemberi layanan kesehatan gratis, dan lain sebaginya.
d.       Penyediaan layanan kesehatan dalam kerangka bonus demografi diperioritaskan kepada penduduk usia 0-18 tahun (usia emas). Program riil bagi penduduk usia emas ini (usia perkembangan) meliputi penggalakan program “asi eksklusif”, pemberian makanan bergizi, imunisasi, dan lain sebagainya.
e.       Selain ditujukan untuk penduduk usia 0-18, layanan kesehatan juga ditujukan kepada penduduk usi 19-21 tahun, karena sebagi penduduk yang akan memasuki dunia kerja. Sehingga kualitas keseatan penduduk usia ini perlu diperhatikan sebagi syarat kesiapan dalam memasuki dunia kerja.
3. Strategi dibidang Ketenagakerjaan
a.       Menekan angka pengangguran dengan memberikan kesempatan kerja yang luas melaui penyediaan lapangan kerja yang banyak
b.      Penyediaan dan penambahan lapangan kerja disesuaikan dengan kemampuan para pencari kerja.
c.       Pengembangan UMKM sebagai sektor informal yang lebih fleksibel dalam penyerapan lapangan kerja
d.      Menciptakan angkatan kerja yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan, untuk bisa bersaing di dunia internasional.
4. Strategi dibidang Keluarga Berencana untuk menekan angka fertilitas
a.       Meningkatkan aseptor KB
b.      Mendorong dan meningkatkan Aseptor KB laki-laki.
c.       Penyuluhan untuk kesehatan reproduksi dan  pernikahan dini
d.      Disusun UU mengenai batas usia minimum pernikahan
Untuk menghadapi bonus demografi maka diperlukan persiapan yang matang. Pemerintah mestinya lebih mengutamakan kualitas penduduk dari pada kuantitas penduduk. Hal ini harus berawal dari kesadaran pemuda Barru, yakni harus berawal dari pribadi yang berkualitas, menjadi keluarga kecil yang berkualitas, menuju masyarakat yang berkualitas, dan pada akhirnya akan menjadi bangsa yang berkualitas.


#R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar