Kamis, 21 Februari 2019

Ide Aristoteles


Tidak ada kuda yang pergi ke
Manapun sampai ia di cambuk
Hidup hanya akan berhasil
Jika memiliki tujuan dan persahabatan. @R


Tidak Ada Ide Bawaan

Aristoteles menganggap Plato telah menjungkirbalikan segalanya. Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda-kuda “berubah” dan bawha tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal dan abadi. Tapi kuda “Ide” itu adalah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat sejumlah kuda tertentu. Kuda “Ide” karenanya tidak mempunyai eksistensinya sendiri. Bagi Aristoteles, kuda “ide” atau “bentuk” tercipta dari ciri-ciri kuda yang mendefinisikan apa yang kini kita sebut spesies kuda.
Maka, Aristoteles tidak setuju dengan Plato bahwa ayam “ide” ada sebelum ayam. Yang oleh Aristoteles dinamakan ayam “ide” itu ada dalam setiap ayam sebagai ciri khas ayam misalnya, ia bertelur. Ayam nyata dan ayam. “ide” karenanya tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa.
Aristoteles tidak tidak menyangkal bahwa mempunyai akal bawaan. Sebaliknya, justru akal itulah, menurut Aristoteles, yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Tapi akal kita sama sekali kosong sampai kita mengalami sesuatu. Jadi, manusia tidak mempunyai “ide” bawaan.

Bentuk Suatu Benda Adalah Ciri Khasnya
Setelah mencapai kesepakatan dengan teori Plato mengenai ide, Aristoteles memutuskan bahwa realitas terdiri dari berbagai benda terpisah yang menciptakan suatu kesatuan antara bentuk dan Substansi. “Subtansi” adalah bahan untuk membuat benda-benda, sedangkan “bentuk” adalah ciri khas masing-masing benda.
Mari kita kembali kepada ayam dan telur. Sebutir telur mempunyai potensi untuk menjadi seekor ayam. Ini tidak berarti bahwa semua telur telur ayam dapat menjadi ayam banyak di anatara mereka berakhir di atas meja sarapan sebagai telur goring, telur dadar, atau telur orak-arik, tanpa pernah menjadikan nyata potensi mereka.
Ketika Aristoteles membicarakan “subtansi” dan “bentuk” benda-benda, dia tidak hanya mengacu pada organisme hidup. Sebagaimana sudah menjadi “bentuk” ayam untuk hidup. Sebagaimana sudah menjadi “bentuk” ayam untuk berkotek, mengepak-ngepakkan sayapnya, dan  bertelur, maka  “bentuk” batu adalah jatuh ke tanah. Sebagaimana ayam tidak bisa tidak berkotek, batu pun tidak bisa tidak jatuh ke tanah. Kamu, tentu saja, dapat mengangkat sebuah batu dan melemparkannya ke udara, tapi karena sudah menjadi sifat batu untuk jatuh ke tanah, kamu tidak dapat melemparkannya ke bulan. (Hati-hati kalau kamu mau melakukan percobaan ini, sebab batu itu mungkin akan membalas dendam dan menemukan jalan paling dekat untuk kembali ke tanah!)
Sebab Terakhir
Sebelum kita beranjak dari subjek tentang semua benda hidup dan mati yang mempunyai “bentuk” yang menunjukkan sesuatu tentang potensi “aksi” mereka, harus kutambahkan bahwa Aristoteles mempunyai pandangan yang luar biasa mengenai hubungan sebab-sebab di alam.
Kini, jika kita membicarakan “sebab” dari apa pun, yang kita maksudkan adalah bagaimana hal itu dapat terjadi. Kaca jendela pecah sebab Peter melemparkan batu dan mengenainya; sepatu dibuat karena pembuat sepatu menjahit potongan-potongan kulit menjadi satu. Tapi, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada sebab-sebab yang berbeda di alam. Sekaligus dia menyebut empat sebab yang berbeda. Penting untuk memahami apa yang dia maksud dengan yang disebutnya “sebab terakhir”.
Logika
Perbedaan anatara “bentuk” dan “substansi” memainkan peranan penting dalam penjelasan Aristoteles tentang cara memandang benda-benda di dunia.
Dengan demikian, kita bisa mengelompokkan segala sesuatu. Kita memasukkan sapi ke kandang sapi, kuda ke kandang kuda, babi ke kandang babi, dan ayam ke kandang ayam, Hal yang sama terjadi ketika Sophie Amundsend merapikan kamarnya. Dia meletakkan buku di rak buku, buku sekolah di tas sekolah, dan majalah di laci. Lalu, dia melipat pakaiannya dengan rapid an menyimpannya di lemari pakaian dalam di satu rak, sweter di rak lain, dan kaus kaki di dalam laci tersendiri. Ketahuilah bahwa kita melakukan hal yang sama dalam benak kita. Kita membedakan benda-benda yang dari batu, benda-benda yang berbuat dari wol, dan benda yang berbuat dari karet. Kita membedakan antara tanaman, binatang, dan manusia.
Contoh itu membuktikan bahwa logika Aristoteles di dasarkan pada korelasi pengertian, dalam hal ini “makhluk hidup” dan “akan mati”. Meskipun orang harus mengakui bahwa kesimpulan di atas 100% benar, kita juga boleh menambahkan bahwa itu hamper tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Kita sudah tahu bahwa Hermes “akan mati”. (ia adalah seekor “anjing” dan semua anjing adalah “makhluk hidup” yang “akan mati”, tidak seperti batu cadas di Gunung Everest.) tentu saja kita tahu itu, Sophie. Tapi hubungan anatara kelompok-kelompok benda tidak selalu jelas. Kadang-kadang kita harus menjelaskan konsep-konsep kita.


 


3 komentar:

  1. numpang promote ya min ^^
    Hayyy guys...
    sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
    dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
    di DEWAPK agen terpercaya di tunggu lo ^_^

    BalasHapus